Follower, Leader, Learner,,,

October 1st, 2006

Studi kasus : fenomena persaingan dunia handphone..

Saat hendphone kecil muncul, banyak orang terkagum dan alhasil product tersebut meledak luar biasa. Tapi tak lama, semua produsen handphone sibuk membuat hp ukuran kecil. Tak lama hp kecil yang tadinya UNBELIEVABLE, lantas menjadi biasa saja. Ukuran  kecil lantas menjadi standar minimum. Berlanjut , merambah ke banyak fitur lain dari hp, mulai dari kamera, akses MP3, video recording dll. Semuanya dengan cepat menjadi syarat minim agar diterima konsumen !

Kabar  gembira bagi Follower, teknologi dapat cepat dibeli, diadopsi  dan ditiru. Bahkan sebagai follower, kadang ANda bisa membuat sesuatu yang BIGGER, HIGHER and BETTER than the leader. Yang pasti ANda TETAP menjadi FOLLOWER !
Kabar  tidak merdu bagi LEADER, produk ANda akan cepat ditiru, dikejar bahkan dilewati oleh  competitor Anda. Mereka bahkan bisa membuat hal yang sama lebih baik. Kabar baiknya untuk Anda, Anda  TETAP menjadi LEADER !
Pilih yang mana ? menjadi Leader atau menjadi follower ? ha…………….bukan pilihan mudah dan sederhana. Banyak  orang dengan cepat  menjawab ingin menjadi LEADER. Sebagian lagi malu kalau dituduh hanya sebagai follower. Sudah tetapkan pilihan ?
Ada kah sesuatu yang mungkin bisa membantu kita menetapkan pilihan ? adakah sesuatu yang lebih ESENSIAL ?
Mungkin salah satunya adalah tidak memilih  KEDUAnya ! mengapa tidak mencoba menjajaki hal lain diluar dikotomi LEADER – FOLLOWER. Jangan-jangan ada yang lebih  BERMAKNA dari  dua pilihan di atas !
Saya terpikir pilihan lain, yakni menjadi LEARNER ! menjadi pembelajar, yang mau berkeringat terus memperbarui diri. Pembelajar yang rajin merevitalisasi diri. Pelajar sekolah kehidupan yang  terus mengunyah vitamin mental pikiran dan kebijakan, agar dirinya tetap LAYAK PAKAI. Agar dirinya tidak cepat EXPIRED !
Dengan terus belajar, mungkin saat ini ia  masih dalam posisi FOLLOWER. Namun bukan hal yang mustahil, dalam waktu cepat ia akan menjadi LEADER. Apa lagi jika LEADER yang ada cepat puas, lalu enggan ’berolah raga’ , lalu tua dan layu.
Aku jadi teringat NLP Presuposition yang mengatakan : ‘Learning is leaving – we can not not learn’

.:: SONY KISYONO ::. orang biasa yg ga pengen biasa2 aja

Shoum Romadhon

September 24th, 2006
Ramadhan telah datang, bulan yang didalamnya terbentang berjuta amal shalih, bulan suci penuh berkah. Benar Ramadhan adalah bulan bertapa, cuman… ada 2 pertapa yang sama – sama menahan makan, minum, hawa nafsu, dsb. Tapi hasilnya buedaaa buannnggggeeeetttt. ….!!!
Yang satu pertapa model ular dan yang satu lagi model ulat…kamu termasuk yang mana ?
PUASA MODEL ULAR
Ia berpuasa menahan makan dan minum, hari – harinya pun full terisi dengan tidur dan dengkur, selesei berpuasa sang ular pun menjadi ular yang baru, pakaiannya berganti. Tapi ular tetaplah ular sebelum berpuasa ia adalah ular yang bercabang dua lidahnya, setelah puasa bajunya baru, lidahnya pun tetap bercabang dua.
PUASA MODEL ULAT
Puasanya unik, tubuhnya terbalik, ia pun meninggalkan makan dan minum. Disamping itu saat puasa ia asyik berdzikir sehingga waktunya menjadi barokah. Sebelum puasa ulat makan apa saja, tampilannya menjijikkan, tubuhnya mengerikan, bulu – bulunya membuat gatal. Saat puasa ia menimbulkan simpati, banyak orang tertarik mengikuti alunan dzikirnya, puasanya lebih bermakna. Setelah berpuasa berubahlah ia menjadi kupu – kupu yang manis menawan hati. Keindahannya dirindukan, terbangnya dinantikan.
Itulah ibrah bagi kita , mari kita belajar menata diri seperti sang ulat melewati hari – harinya penuh dzikir, akhirnya lahir menjadi pribadi baru mukmin sejati.
Barangkali ini Ramadhan terakhir kita, jangan sampai hadir tanpa makna dan pergi tanpa kesan. Semoga Ramadhan benar – benar memberi ruh baru bagi proses tarbiyah kita dan dapat menghsilkan pribadi yang benar – benar mempesona.
**Betha (Staff Biro Penelitian dan Pengembangan BEM KBM STT Telkom)

Sekedar Berbagi

September 11th, 2006

Bahkan sampai hari ini pun saya masih terus belajar. Setiap aktifitasku selalu menyisakan pertanyaan yang aku sendiri belum mampu menjawabnya. Potensi yang aku kerahkan untuk mimpi yang selama ini aku khayalkan disetiap malam atau bahkan saat aku sedang merenung setelah sholat. Aku sadar bahkan sangat sadar bahwa diriku bukanlah makhluk yang sempurna. Secara naluriah, hati kecil ini selalu berbisik..”hey..hey untuk apa kamu katakan kalau kamu belum melakukan” — “perbaiki saja dirimu dulu, nanti kalau sudah waktunya baru kamu berbagi dengan orang lain”

Bisikan yang selalu mengganggu gerak langkah juang ku. Bisikan yang membuat aku mempertimbangkan setiap apa yang akan aku lakukan. Bisikan ini sebenarnya tidak terlalu aku percayai. Bisikan ini menurutku memang perlu dipertahankan pada titik tertentu dan perlu juga dibatasi pada titik tertentu. Bisikan ini menurutku adalah bagian dari persaan. Dan perasaan adalah penghuni rumah hati aku.

Secara sadar aku mencoba untuk mengenali sisi lain dari pribadi yang pernah terlahir kedunia dengan hanya berselimutkan darah. Pribadi yang saat ini sangat berharap lahirnya sebuah peradaban yang menentramkan.

Kemudian saat ini aku harus segera menentukan jalan hidup yang akan aku tempuh. Jalan yang dengan perenungan panjang, kedalaman samudra analisa dan pencaharian jati diri yang selama ini entah terbang kemana.

Namun semua adalah pilihan. Hidupku pilihan dan matiku pun adalah sebuah keniscayaan untuk tidak menjadi orang kerdil yang hanya berfikir .. makan apa aku esok?? ** Ferdian

Verbal Communication

September 11th, 2006
Kekuatan kata
Jangan menggunakan kata-kata yang sulit diucapkan dan dihafalkan. Lebih baik anda menggantinya dengan kata-kata yang lebih mudah dicerna. Tetapi agar kata-kata anda terkesan kuat, gunakan istilah tertentu untuk memperjelas maksud anda. Untuk itu kuasai unsur-unsur bahasa, seperti sinonim, antonim, anonim, ungkapan (idiom), dan kata penghubung. Sehingga anda memiliki kosa kata yang lebih luas dan bernilai tinggi.
Ragam bahasa
Pahami dan kuasai ragam bahasa, baik yang resmi maupun tidak. Baik bahasa lisan maupun tulisan. Dan ketahuilah ragam bahasa dalam suatu kalangan kemudian gunakan bahasa tersebut di kalangan itu. Misalnya bahasa pergaulan di orang-orang perbankan berbeda dengan bahasa orang-orang penerbitan. Dengan demikian anda bisa lebih fleksibel dalam berbahasa tergantung situasi dan kondisi yang tengah anda hadapi. Menguasai ragam bahasa ini termasuk penguasaan anda terhadap bahasa asing. Paling tidak kuasailah bahasa internasional yang paling umum yaitu Bahasa Inggris. Ini akan sangat membantu kelancaran anda dalam berkomunikasi terutama dengan orang-orang asing.
Kekuatan suara
Bagaimana anda bisa berkomunikasi tanpa suara yang jelas? Maka perhatikan kualitas suara dalam komunikasi verbal. Gunakan intonasi dan nada suara, tempo, jeda, dinamika, dan ekspresi suara dengan baik dan benar. Ketika berkomunikasi, usahakan suara nafas tidak terdengar. Kontrol kualitas suara anda dengan baik. Jangan bicara dalam nada yang terlalu cepat tapi juga jangan terlalu lambat. Gunakan kecepatan suara sedang. Sehingga anda tidak kesulitan memenggal kalimat tanpa kehilangan maknanya. Dengan ekspresi suara yang jelas, kalimat-kalimat yang anda ucapkan menjadi lebih jelas dan mudah dipahami.
Hindari aksen daerah
Hindari komunikasi yang menunjukkan aksen atau logat daerah yang terlalu kental. Memang sih jika anda berasal dari daerah tertentu cukup sulit untuk menghilangkan aksennya. Tapi usahakan agar tidak terlalu dominan. Tunjukkan karakter suara yang tegas namun dengan tutur kata yang teratur serta intonasi suara yang tepat.
Menjadi pendengar aktif
Komunikasi yang efektif dapat terwujud karena adanya keseimbangan antara pembicara dan pendengar. Anda bukan hanya bisa berbicara tetapi juga harus bisa menjadi pendengar yang baik. Tentu saja menjadi pendengar yang aktif. Simak ucapan lawan bicara dengan seksama dan dengarkan dengan sensitifitas yang tinggi. Beri respon positif terhadap pembicaraan tersebut dan ungkapkan pendapat anda. Ketahui kapan anda harus berbicara dan interupsi. Jangan lupa pertahankan kontak mata. Kontak mata yang baik menunjukkan empati dan simpati anda terhadap lawan bicara.

Alergi Kehidupan

September 11th, 2006

Seorang wanita mendatangi seorang Guru. Katanya : “Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau.Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati”. Sang Guru tersenyum : “Oh, kamu sakit”.
“Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan.Itu sebabnya saya ingin mati”.
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : “Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama “Alergi Hidup”. Ya, kamu alergi terhadapkehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan.Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti ditempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita”.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku”, kata sang Guru.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi”, wanita itu menolak tawaran sang Guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?”, tanya Guru.
“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, jawab wanita itu lagi.
“Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini… Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang”.
Kini, giliran wanita itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun.
Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai !
Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium suaminya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu” . Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan suaminya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk suaminya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang suamipun merasa aneh sekali dan berkata : “Sayang,apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang”.
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos wanita kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan suami tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang suami yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu”. Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : “Mama, maafkan kami semua. Selama ini, mama selalu tertekan karena perilaku kami”.
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah wanita itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan”.
Wanita itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !
“Orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat kematian dan bersiap diri dengan bekal untuk menghadapi kematian.” (Al Hadits)
Semoga bermanfaat…

** Ferdian

Which one is you?

September 10th, 2006
* Integritas
Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang Anda katakan akan Anda lakukan. Integritas membuat Anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan Anda. Integritas adalah penepatan janji-janji Anda. Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti Anda adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa Anda akan membawa mereka kepada tujuan yang Anda janjikan.
* Optimisme
Tak ada orang yang mau menjadi pengikut Anda bila Anda memandang suram masa depan. Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa melihat masa depan dan memberitahukan pada mereka bahwa di depan sana terbentang tempat yang lebih baik dan mereka dapat mencapai tempat itu.
* Menyukai perubahan
Pemimpin adalah mereka yang melihat adanya kebutuhan akan perubahan, bahkan mereka bersedia untuk memicu perubahan itu. Sedangkan pengikut lebih suka untuk tinggal di tempat mereka sendiri. Pemimpin melihat adanya kebaikan di balik perubahan dan mengkomunikasikanny a dengan para pengikut mereka. Jika Anda tidak berubah, Anda takkan berkembang.
* Berani menghadapi resiko
Kebanyakan orang menghindari resiko. Padahal, kapan pun kita mencoba sesuatu yang baru, kita harus siap menghadapi resiko. Keberanian untuk mengambil resiko adalah bagian dari pertumbuhan yang teramat penting. Para pemimpin menghitung resiko dan keuntungan yang ada di balik resiko. Mereka mengkomunikasikanny a pada pengikut mereka dan melangkah pada hari esok yang lebih baik.
* Ulet
Kecenderungan dari pengikut adalah mereka menyerah saat sesuatunya menjadi sulit. Ketika mereka mencoba untuk yang ke dua atau ke tiga kalinya dan gagal, mereka lalu mencanangkan motto, “Jika Anda gagal di langkah pertama, menyerahlah dan lakukan sesuatu yang lain.” Jelas saja mereka melakukan itu, karena mereka bukan pemimpin. Para pemimpin itu tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu berusaha menggapainya. Lalu mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha.
* Katalistis
Pemimpin adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakkan orang lain untuk melangkah. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zona kenyamanan dan bergerak menuju tujuan mereka. Mereka mampu membangkitkan gairah, antusiasme, dan tindakan para pengikut.

* Berdedikasi dan komit
Para pengikut menginginkan seseorang yang lebih mencurahkan perhatian dan komit ketimbang diri mereka sendiri. Pengikut akan mengikuti pemimpin yang senantiasa bekerja dan berdedikasi karena mereka melihat betapa pentingnya pencapaian tugas-tugas dan tujuan.

Learning

August 30th, 2006

Learning bisa kita artikan sebagai serangkaian usaha yang kita lakukan untuk meraih apa yang kita inginkan dengan menggunakan sumberdaya yang sudah ada berdasarkan keadaan-kontekstual kita secara berproses. Merujuk pada arti seperti ini, ada beberapa pemikiran yang bisa kita jadikan sebagai rujukan:
Pertama, kalau kita menginginkan menjadi orang yang selalu termotivasi, maka yang harus kita lakukan adalah selalu memotivasi diri. Tidak bisa menyerahkan tanggung jawab memotivasi diri ini kepada lembaga training. Kita butuh training yang dapat memotivasi kita tetapi kita tidak bisa mengandalkannya.
Motivasi itu bisa diibaratkan seperti mandi. Tidak cukup kita hanya mandi sekali. Setelah mandi kita bersih dan ketika nanti kotor lagi, butuh mandi lagi. Sama juga seperti makan. Pengalaman Peter Davis mengatakan, “Motivasi merupakan makanan bagi otak kita. Tidak cukup kita hanya memberikan makan sekali. Otak kita membutuhkan makan secara terus menerus dan teratur.”
Kedua, memotivasi diri tidak bisa dilakukan dengan hanya memotivasi diri, dibutuhkan sesuatu yang dapat memotivasi kita. Karena itu, ciptakan sesuatu yang hendak anda raih agar anda termotivasi. Sesuatu yang ingin anda raih ini dalam bahasa yang lebih umum disebut tujuan (goal). Kata Charles Schwabb, jika seseorang sudah memiliki tujuan yang jelas, orang itu akan lupa makan paginya.
Kesadaran usaha dan tujuan (mencapai keinginan) adalah dua poin mendasar yang bisa dikiaskan pada hal-hal lain. Training spiritualitas tidak bisa membuat kesalehan anda meningkat. Kalaupun ya, itu hanya sementara. Untuk membuatnya menjadi langgeng, harus ada kesadaran berusaha. Di samping itu, dibutuhkan tujuan hidup yang dinamis. Sulit kita men-sholeh-kan diri dengan hanya men-sholeh-kan. Harus ada tujuan yang hendak kita capai. Dengan begitu, karakter kita terbentuk seiring dengan proses.
Ketiga, perlu disesuaikan materi training dengan keadaan personal / keadaan-kontekstual . Artinya apa? Artinya, menerapkan materi-materi training dalam kehidupan kita setelah kita meninggalkan ruangan training beberapa minggu atau beberapa bulan butuh semacam adaptasi dengan keadaan kita.
Saya ingin memberi contoh, misalnya saja motivasi dan tujuan. Di atas saya singgung bahwa agar kita selalu termotivasi, maka dibutuhkan tujuan hidup atau sasaran. Tapi di sini perlu dicatat bahwa tujuan atau sasaran itu tidak sembarang tujuan. Tujuan yang bisa memotivasi diri kita adalah tujuan yang benar-benar cocok atau klop dengan keadaan personal kita hari ini. Tetap saja perlu penyesuaian- penyesuaian di lapangan. Ada ungkapan yang patut direnungkan. Ungkapan itu mengatakan: “training is general but learning is personal”.
Keempat, perlu ada kesadaran menaati proses. Materi yang disampaikan oleh trainer kepada kita adalah materi yang berbentuk pengetahuan, wawasan, pemikiran, dan sebangsanya. Kemampuan pengetahuan ini dalam menghasilkan prilaku secara langsung, amatlah kecil. Agar bisa menghasilkan prilaku yang kontinyu atau kebiasaan, umumnya harus melewati jalur yang bernama kesadaran berproses (transformasi diri). Kata, Dietrich Bonhoeffer,“Tindakan tidak lahir dari pemikiran tetapi lahir dari kesediaan untuk bertanggung jawab.”
Kelima, menggunakan sumberdaya yang sudah ada. Yang disebut menjalani proses pembelajaran itu adalah ketika kita ingin memperbaiki diri tanpa harus menunggu datangnya keadaan ideal. Atau, menjadikan datangnya keadaan ideal sebagai syarat untuk memperbaiki diri. Saya melihat ini yang kerap menjebak kita. Kita ingin memacu diri tetapi menunggu kalau gaji naik, menunggu kalau lingkungan kerja sudah bagus, dan seterusnya.
Jika kita berpikir semacam itu, masalahnya bukan soal benar atau salah. Masalahnya adalah, kebiasaan menunggu atau menjadikan faktor eksternal sebagai syarat, akan berpotensi membuat proses pembelajaran di dalam diri kita mandek. Dan kalau sudah mandek, setan gampang menggoda kita untuk menikmati kemalasan, menuding ke pihak lain sebagai pembenar atas kemalasan kita, dan seterusnya. Be careful! **Sony Kisyono

Uang Korupsi Itu Merusak Anak Saya

August 28th, 2006

Jamil Azzaini – Kubik Leadership

Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa korupsi di Indonesia sudah terlalu besar dan diluar kontrol. Korupsi sudah merasuki semua sendi kehidupan dan telah terjadi baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Pernyataan presiden yang disampaikan pada acara Presidential Lecture di Istana Negara pada Rabu, 2 Agustus 2006, itu mengisyaratkan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia masih jauh dari harapan. Kendati pelaku korupsi tampak tak terjamah, tapi yakinkah kita bahwa mereka benar-benar lolos dari jerat hukum? Ngomong-ngomong soal korupsi saya ingin berbagi cerita. Suatu hari, saya diundang untuk berbicara di depan staff dan pimpinan sebuah perusahaan ternama. Pada kesempatan tersebut saya berbicara tentang “hukum kekekalan energi”, yang intinya, menurut hukum kekekalan energi dan semua agama, apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita di dunia. Dengan kata lain, apabila kita melakukan “energi positif” atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan “energi negatif” atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan itu mengkritik pedas “hukum kekekalan energi”. Walau saya sudah menjelaskan dengan beragam argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam kehidupan nyata, dia tetap tidak yakin. Sampai kami berpisah, kami masih pada pendapat masing-masing. Tujuh bulan berlalu, pimpinan itu tiba-tiba menelpon saya. “Pak Jamil, saya ingin bertemu anda,” ujarnya singkat. Karena penasaran, undangan dari beliau saya prioritaskan. Singkat kata, pada waktu dan tempat yang telah disepakati kami bertemu. Rupanya beliau tiba lebih dulu di tempat kami janjian. Begitu saya datang, beliau segera menyambut dengan sebuah pelukan erat. Cukup lama beliau memeluk saya. “Maafkan saya pak Jamil. Maafkan saya,” ucapnya, sambil terisak dan terus memeluk saya. Karena masih bingung dengan kejadian ini saya diam saja. Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. “Saya sekarang yakin dengan apa yang pak Jamil dulu katakan. Kalau kita berbuat energi positif maka kita akan mendapat kebaikan dan bila kita berbuat energi negatif maka pasti kita akan mendapat keburukan,” ujarnya. “Bagaimana ceritanya sekarang kok bapak jadi yakin?” tanya saya. “Selama saya menjabat pimpinan di perusahaan itu, saya menerima uang yang bukan menjadi hak saya. Semuanya saya catat. Jumlahnya lima ratus dua puluh enam juta rupiah,” katanya. Sembari menarik napas panjang beliau melanjutkan bercerita. Kali ini tentang anaknya. “Anak saya sekolah di Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia terkena narkoba. Sudah saya obati dan sembuh. Ketika liburan, dia ke Amerika dan Kanada. Tidak disangka, disana dia bertemu dengan teman pengguna narkobanya ketika di Australia. Anak saya sebenarnya menolak menggunakan lagi. Namun dia dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan makin parah, pak.” Selama bercerita, beliau tak henti mengusap pipinya yang basah dengan air mata yang terus meleleh seperti tak mau berhenti. “Pak Jamil tahu berapa biaya pengobatan narkoba dan penyakit anak saya?” Tanpa menunggu jawaban saya, lelaki separuh baya itu berkata lirih, “Biayanya lima ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis dengan uang kotor yang saya terima, pak!” Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengkan kepala disertai isak Tangis yang makin keras. Dengan terbata lelaki itu berkata, “Uang korupsi itu telah merusak anak saya, pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tua yang baik. Saya telah merusak anak saya, pak!” Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan air matanya tumpah. Tangisnya semakin keras…. Wahai saudara, haruskah menunggu anak kita menjadi pengguna narkoba dan sakit untuk berhenti korupsi? Keterangan Penulis: Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

Ajari aku

August 27th, 2006

Hai, kalian yang disana,,,

Ajari aku tentang ketidakpedulian, sehingga aku tidak harus menangis melihat kesenjangan yang semakin menganga,,,

Ajari aku tentang kekejaman, sehingga aku tidak harus merasa iba ketika melihat penganiayaan kepada wanita dan anak-anak oleh mereka,,,

Ajarilah aku tentang pemberontakan, sehingga aku tak lagi harus patuh pada pemimpinku, dan setiap orang yang mencoba memerintahkan ku,,,

Ajari aku tentang kebusukan, sehingga ku tak lagi merasakan cinta yang menentramkan hati,,,

Ajari aku tentang kebiadaban, seperti yang mereka lakukan terhadap saudara-saudaraku disana, sehingga ku tak lagi harus merasa tegang ketika menghadapi hal yang serupa,,,

Sungguh diri ini tak lagi kuasa menahan airmata yang seakan selalu tergantung dipelupuk mata ini,,,

Wahai kalian yang masih bisa tertawa, melihat kenyataan ini,,,

Apa yang kalian rasakan ketika melihat anak-anak dan para tua menengadahkan tangannya dan meminta,

Sungguh telah datang masa dimana manusia memakan saudaranya, saling membinasakan diantara sesamanya,,,

Cakrawala Pagi

August 24th, 2006

Seorang dosen sedang memberikan kuliah tentang Manajemen Stres. Dia mengangkat segelas air dan bertanya kepada mahasiswanya “Seberapa berat anda kira segelas air ini?” Mahasiswa menjawab mulai dari 20 gr sampai 500 gr. Lalu sang dosen pun menjawab, “Berat ini sebenarnya bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat”. Coba kita analogikan kepada diri kita, “Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya”. “Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi”. Kita harus bisa meninggalkan beban yang bercokol pada diri kita secara periodik [tapi bukan selamanya], agar kita bisa lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke kosan dari amanah kita setiap harinya, tinggalkan beban amanah sejenak. Apapun beban yang ada di pundak kita hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi……

Amanah ini singkat, jadi cobalah menikmatinya!! dan alangkah baiknya untuk menganggap amanah bukan dari sudut pandang beban. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi hanya dapat dirasakan jauh di relung hati kita. ***Ferdian

    Time pass by
    December 2009
    M T W T F S S
    « Dec    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
    Pages